Hari ini 44 tahun lalu

May 13, 2013 at 9:30 am Leave a comment

 

Rossem, 13 Mei 2013

44 tahun dulu, tanggal 13 Mei 1969, rusuhan pecah. Langit Kuala Lumpur merah. Asap hitam berkepol, rumah-rumah dijarah, tinggal puing, mayat bergelimpangan, rakyat panik.

Ketika itu usia belasan tahun, menuntut disebuah institusi pembelajaran di pinggir Kuala Lumpur, tiba-tiba seorang pegawai Polis pangkat tinggi datang “Sesiapa mahu menjadi sukarelawan polis boleh daftar nama sekarang juga”

Setelah mendaftar nama bersama ratusan teman-teman pelajar. Esoknya dibekalkan selaras senapang setiap seorang dengan 10 biji peluru penabur. Kartu berwarna kuning dengan lambang polis yang tertera nama pemilik diberikan.

“Tugas kamu membantu mengawal pengungsi (pelarian) yang melarikan diri dari kawasan awan ke lokasi selamat yang disediakan pemerintah, iaitu di Stadium Negara dan Stadium Chinwoo yang berdekatan,” kata pegawai polis itu kepada komandan sekolah kami belajar.

Melihat anak-anak kecil yang menangis, ibu-ibu yang ketakutan, dan orang tua yang uzur dan saling curiga mencurigai tinggal dalam kondisi bersesak -sesak sehelai sepinggang dalam stadium, dengan bekalan air minum tak mencukupi apalagi untuk mandi, tandas tak sampai sepuluh buah untuk menampung ribuan penggusi, lalu pertanyaan pun timbul “Politik apa ini?”

Senasib dengan pengungsi ialah petugas seperti kami yang berkerja terus menerus siang malam tanpa ganti, stadium sudah menjadi rumah kami, makan ala kadar dan tanpa gaji atau elaun.

Dalam kepenatan itu, sambil baring, kami menolog “Wahai pemuka-pemuka negara yang bijaksana, kenapa kamu memilih politik perkauman seperti ini?”

Hari ini, genap 44 tahun tragedi Mei 13 berlalu, kita masih bersedih, ada lagi rupanya parti politik yang mengamalkan sikap perkauman!

Lalu teringat ucapan Mursyidul Am PAS, Tuan Guru Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat  di Seminar Keharmonian Masyarakat Majmuk Pengalaman Kelantan,  8 Oktober 2011,  PCB Resort, Kota Bharu.

“Perbalahan kaum seperti terjadi di Kuala Lumpur itu tak berlaku di Kelantan yang ketika itu di bawah pemerintahan PAS,” ujar Tok Guru.

“Ini bukan secara kebetulan, tapi lebih kepada usaha yang dilakukan Menteri Besar Kelantan ketika itu, Datuk Asri Haji Muda memanggil semua penghulu seluruh Kelantan ke JKR 10, memberitahu mereka; “Kerajaan Kelantan tak mahu melihat  walau setitis  darah orang Cina tumpah di bumi ini,  atau sehelai bulu roma terlerai dari badan,” sambung  Tok Guru.  Khalayak non-Muslim yang hadir pun senyum lebar.

Sebuah harapan dari seorang pemimpin  yang meletakkan Islam segala-galanya melebihi ras.

Sekarang perjuangan itu diteruskan sosok yang baru, Datuk Haji Ahmad Yakob.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Society has changed, May 13 will not replay Kit Siang denies ‘Malai-seh’ slogan, calls Zul Noordin ‘irresponsible liar’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Posts

IN MEMORY OF ALL VICTIMS OF MAY 13, 1969


%d bloggers like this: